.quickedit{ display:none; }

Rabu, 14 Desember 2011

Mencintai Sesama Muslim Termasuk Kesempurnaan Iman


???? ?????? ???????? ?????? ???? ??????? ??????? ??????? ????  ???? ???????? ????? : ??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????????
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dari NabiShallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda: Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya

Takhrij
Hadits ini dikeluarkan oleh Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, bab Min Al Iman An Yuhibba Li akhihi ma yuhibbu linafsihi, hadits no. 13. juga Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi al muslim ma yuhibbu linafsihi min Al khoir, hadits no. 45.
Penjelasan hadits
??? ???????? ??????????
bermakna ‘tidak sempurna iman salah seorang’, karena penafian disini untuk menafikan kesempurnaan bukan menafikan pokok iman.
Jika ada yang bertanya: “Apa dalil kamu tentang ta’wil ini, yang merupakan pemalingan kalam dari makna zhahirnya?” Jawabnya: “Dalil kami yang menunjukkan hal ini adalah amalan tersebut tidak mengeluarkan manusia dari iman dan tidak dianggap telah murtad, itu hanya nasehat, sehingga penafiannya disini hanya menafikan kesempurnaan iman”.
Jika ada yang menyanggah: “Bukankah kalian mengingkari ta’wil-nya ahli ta’wil?” Jawabnya: “Kami tidak mengingkari ta’wil-nya ahli ta’wil, akan tetapi mengingkari ta’wil mereka yang tidak didasari dalil, karena jika ta’wil tidak didasari dalil maka dinamakan tahrif (penyimpangan) dan bukan ta’wil. Sedangkan ta’wil yang berdasarkan dalil maka ia dianggap sebagai bagian dari tafsir kalam (perkataan), sebagaimana sabda Rasulullah dalam mendoakan Abdullah bin Abas :
??????? ????????? ???? ????????? ?? ????????? ?????????????
Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil[1]
Jika ada yang bertanya: dalam firman Allah :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk (QS. Al Nahl :98)
Jika ‘apabila kamu membaca Al Qur’an’ disini dimaknai ‘Jika kamu hendak membaca Al Qur’an’, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela atau ta’wil yang benar?
Jawabnya, ini ta’wil yang benar, karena ditunjukkan oleh dalil yaitu perbuatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam karena beliau ber-ta’awwudz ketika akan membaca dan tidak diakhir bacaan apa-apa.
Jika ada yang bertanya: “Dalam firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu (QS. Al Maidah:6)
Bahwa yang dimaksud adalah ‘jika kalian hendak melaksanakan shalat’, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela datau yang benar? Jawabnya, ini ta’wil yang benar. Oleh karena itu kita tidak mengingkari semuata’wil, namun hanya mengingkari ta’wil yang tidak didasari dalil dan kita namakan tahrif.
??? ???????? ??????????
Iman secara etimologi bahasa Arab bermakna iqrar yang mengharuskan penerimaan dan ketundukan, inilah definisi yang sesuai dengan syari’at. Ada yang mendefinisikannya dengan Tashdiq. Definisi ini lemah, karena perkataan: ( ??????? ???????) dan (????????? ???????? ) dan tidak dikatakan: ( ??????? ????????). Ada juga yang menyatakan: iman menurut bahasa Arab adalah iqrar. Yang berpendapat demikian berdalil dengan perkataan (????? ?? ?? ??????? ???? ) dan tidak dikatakan: ( ???????) bermakna (????????? ). Ketika dua kata kerja ini tidak dapat sama dalam transitif dan intransitifnya, maka diketahui bahwa keduanya tidak bermakna satu.
Sehingga iman menurut bahasa yang sebenarnya adalah iqrar hati terhadap apa yang disampaikan dan bukan tashdiq. Terkadang iman juga bermakna tashdiq dengan indikator tertentu, seperti firman Allah :
فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ
Maka Luth membenarkan (kenabian)nya.. (QS. Al Ankabut:26)
Menurut satu pendapat ulama dengan ada kemungkinan dikatakan : (????????? ???? ????? ) bermakna tunduk patuh kepadanya -yaitu Ibrahim- dan membenarkan dakwahnya. Adapun makna iman menurut syari’at maka ia sama dengan definisinya menurut bahasa. Sehingga siapa yang mengakui tanpa menerima dan tunduk maka belum mukmin. Berdasarkan hal ini maka orang yahudi dan nashroni sekarang ini bukan mukmin, karena mereka tidak menerima dan tunduk kepada agama islam. Abu Thalib dulu juga mengakui kenabian Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan menyampaikan hal itu dalam pernyataannya:
Sungguh mereka mengetahui bahwa anak kita ini tidak didustai
Dalam diri kita dan tidak juga mengucapkan perkataan batil.
Dan menyatakan juga:
Sungguh aku mengetahui agama Muhammad
Termasuk agama manusia yang terbaik
Seandainya bukan karena celaan dan khawatir dimaki
Sungguh kamu melihatku menerima dengan baik agama itu
Ini pengakuan yang jelas dan pembelaan terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam . walaupun demikian ia bukanlah seorang mukmin, karena tidak menerima dan tunduk, ia belum menerima dan tunduk kepada dakwah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, sehingga mati dalam keadaan kafir.
Tempatnya iman adalah hati, lisan dan anggota tubuh. Sehingga iman itu dengan hati, lisan dan anggota tubuh, bermakna perkataan lisan dinamakan iman dan amalan anggota tubuh dinamakan iman. Ini semua dengan dalil firman Allah Ta’ala:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.. (QS. Al Baqarah:143)
Para ahli tafsir menyatakan : “Yang dimaksud ’imanmu’ adalah shalatmu menghadap baitul maqdis”. Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
????????? ?????? ?? ?????????? ???????? ???????????? ?????? ??? ?????? ?????? ???? ?? ?????????? ????????? ??????? ???? ??????????? ?? ????????? ???? ???????????
“Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah kalimat la ilaha illa Allah dan terrenda adalah membuang pengganggu dari jalanan dan malu termasuk cabang dari iman”[2]
Tertinggi adalah pernyataan la ilaha illa Allah, dan ini adalah pernyataan lisan dan terendah adalah membuang pengganggu dari jalanan juga adalah amalan anggota tubuh, serta rasa malu termasuk amalan hati.  Adapun pendapat yang menyatakan iman tempatnya hanya diahati saja dan orang yang membenarkan (Islam), maka telah mukmin, ini adalah pendapat yang salah dan tidak benar.
?????? ???????
Kata (?????? ) bermakna ‘sampai’, berarti maknanya ‘sampai mencintai untuk saudaranya’. Kata cinta tidak perlu dijelaskan dan penjelasannya hanya menimbulkan masalah dan ketidak-jelasan. Cinta ya cinta tidak ada kata yang lebih jelas menafsirkannya dari itu.
?????????
Bermakna ‘saudara sesama mukmin’
??? ??????? ?????????
Bermakna sesuatu yang ia cintai untuk dirinya dari kebaikan, keselamatan dan pembelaan kehormatan serta yang lainnya. Makna ini juga ada dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambeliau bersabda:
???? ??????? ???? ?????????? ???? ???????? ?? ???????? ????????? ???????????? ??????????? ?????? ???????? ?????? ?? ???????? ??????? ?????????? ????? ???????? ??? ??????? ???? ?????? ????????
Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan syurga, maka hendaklah meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir dan memberikan orang lain seperti ia senang mendapatkannya[3]
Yang terpenting dalam hadits disini adalah: Sabda beliau:
?????????? ????? ???????? ??? ??????? ???? ?????? ????????
memberikan orang lain seperti ia senang mendapatkannya
Faedah Hadits
Dapat diambil beberapa faedah dari hadits ini, diantaranya:
  1. Boleh menafikan sesuatu karena tidak sempurna, dengan dalil sabda Rasulullah :
??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????????
dan sejenis ini adalah sabda beliau:
????? ?? ???? ????? ?? ???? ????? ?? ???? ??? ??? ?? ???? ???? ??? ? ????? ?? ???? ???? ? ??????? ?
Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Seorang yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya)” [4]
Diantara contoh lain pada kebolehan menafikan sesuatu dengan tidak sempurnanya sesuatu itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
??? ??????? ?????????? ??????????
“Tidak ada shalat jika makanan telah dihidangkan”
Bermakna tidak ada shalat yang sempurna, karena hati orang yang shalat akan sibuk dengan makanan yang telah dihidangkan dan contoh lainnya banyak.
  1. Kewajiban seseorang mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, karena penafian iman dari orang yang tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya (dalam hadits) menunjukkan kewajiban tersebut, sebab tidak dinafikan iman kecuali karena hilangnya kewajiban iman atau adanya hal yang bertentangan dengannya.
  2. Peringatan dari sikap hasad, karena orang yang hasad tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, bahkan ia mengharap hilangnya nikmat Allah dari saudaranya seislam. Para ulama berselisih dalam tafsir hasad, sebagian mereka mendefinisikan hasad adalah mengharap hilangnya kenikamtan dariorang lain. Sebagian ulama yang lain menyatakan, hasad adalah ketidak sukaan terhadap nikmat Allah atas orang lain. Ini lah yang dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika berkata: “Jika seorang hamba membenci kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain maka ia telah hasad kepadanya walaupun tidak sampai mengharap hilangnya nikmat tersebut”.
  3. Hendaklah menyampaikan perkataan yang berisi ajakan beramal, karena itu termasuk kefasihan. Yang menjadi dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam : ???????? karena hal ini menunjukkan lemah lembut, kasih dan sayang. Contoh serupa ada pada firman Allah tentang ayat qishash:
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik” (QS. Al Baqarah : 178)
Padahal ia yang membunuh untuk menampakan kelembutan dan kasih sayang kepada al mukhathab(yang ditujukan pembicaraan (edt)).
Jika ada yang menyatakan: masalah ini susah, bermakna bahwa  mencintai untuk saudara sesuatu yang kamu cintai untuk dirimu dengan pengertian, senang saudara kamu menjadi alim, menjadi kaya, menjadi orang yang banyak harta dan anaknya dan menjadi seorang yang istiqomah adalah perkara yang susah.
Jawabnya, ini tidak susah jika kamu telah membiasakan jiwa kamu berbuat demikian, latihlah jiwamu untuk demikian, niscaya akan mudah. Namun jika kamu mentaati jiwa kami dalam hawa nafsunya maka benar hal itu akan menjadi berat.
Jika seorang murid bertanya: apah termasuk dalam hal ini saya mencontekkan kepada teman saya dalam ujian, karena saya senang lulus ujian sehingga saya memberikan contekan kepadanya agar ia lulus ujian juga?
Jawabnya, tidak. Karena itu adalah penipuan, ia sebenarnya adalah mengganggu saudaramu dan bukan perbuatan baik padanya, katrena kamu telah membiasakan ia berkhianat sehingga ia menjadi biasa dan karena kamu telah membohonginya dimana ia akan mendapatkan ijazah yang ia tidak pantas menyandangnya.
Wallahu al Muwaffiq.
[Diterjemahkan oleh Ustadz Khalid Syamhudi, Lc. dengan perubahan susunan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin di kitab Syarah Al Arba’in Al Nawawiyah, cetakan pertama tahun 1424 H, Dar Al Tsurayaa, Riyadh, KSA hal160-164]

[1] HR Ak Bukhari dalam shahih-nya, kitab Al Wudhu’, Bab Wadh’u Al Ma’ Inda Al Khola’ no. 143.
[2] HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Iman, bab Bayaan ‘Adad Syu’abi Al Iman wa Afdholuha wa Adnaha Wa Fadhilah Al Haya wa Kaunihi Min Al Iman no. 35.
[3] HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Imarah, Bab Wujub al Wafa’ bi bai’ati Al Khulafai al waal fal awalno. 1844.
[4] HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab al Adab, Bab Al Itsmu man la Ya’man Jarao Bawaaiqahu no, 6-16.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar