.quickedit{ display:none; }

Rabu, 14 Desember 2011

Belajar Bijaksana Cara Nabi

Belajar Bijaksana Cara Nabi

Belajar Bijaksana Cara Nabi

Bijaksana adalah keadaan di mana jiwa selalu tenang dan berpikir jernih sebelum berucap dan bertindak. Orang yang bijaksana dapat menentukan sikap secara mandiri dan tidak terlalu mudah terperangkap oleh pandangan dangkal orang lain.
Orang yang bijaksana memiliki pandangan yang jauh terhadap sebuah masalah. Mereka biasanya selalu melihat masalah dalam konteks yang luas, tidak berpikir sempit.

Ketika membuat sebuah keputusan mereka juga tidak hanya mementingkan diri sendiri tapi memikirkan dampaknya bagi orang lain. Mereka tidak membatasi pikirannya pada kepentingan jangka pendek, tapi juga kemaslahatan jangka panjang.
Semua sikap atau ucapan yang mereka lahirkan akan dirasakan tepat dengan berbagai situasi dan kondisi lingkungannya.
Bijaksana adalah fitrah manusia. Lalu bagaimana cara membangkitkan fitrah ini agar kita sukses menjalankan misi dakwah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dan para Sahabat dahulu kala? Berikut ini kiat-kiatnya.
1. Terjunkan diri dalam gerakan dakwah bersama jamaah yang kaffah dan lurus manhajnya. Dakwah bersama jamaah yang kaffah akan mengantarkan kita pada penguasaan pilar-pilar kebijaksanaan, yakni:
a. Tafaqquh fiddin (mendalami pemahaman keagamaan).
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam al-Qur`an Surat At-Taubah [9] ayat 122 meminta kaum mukmin agar tidak semuaya pergi berperang. Sebagian dari mereka hendaklah memperdalam pengetahuan agama agar bias memberi peringatan apabila mereka yang pergi berperang tersebut telah kembali.
b. Ikhlas dalam berdakwah.
Allah Ta’ala, dalam Surat As-Syura [42] ayat 23, meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar mengatakan kepada kaum Muslim bahwa, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku.”
c. Memahami beragam obyek dakwah.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, “Berbicaralah kalian kepada mereka sesuai dengan kadar berpikir mereka,” (Riwayat Bukhari).
d. Menjadikan diri sebagai Qur`an berjalan (the walking Qur`an)
Caranya dengan memberi bukti kepada orang yang didakwahi lewat teladan yang baik. Allah Ta’ala berfirman, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedang kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Al-Baqarah [2] : 44)
e. Melakukan dakwah fardiyah
Yaitu mengikat hati dengan kasih sayang sebelum menjelaskan kepada orang yang didakwahi. Allah Ta’ala berfirman,Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya [21]: 107)
f. Mempermudah bukan mempersulit.
Rasulullah SAW bersabda, “Permudahlah, jangan dipersulit. Besarkan hati jangan membuat orang lari,” (Riwayat Bukhari).
2. Kenali diri sendiri. Kenali apa saja kekurangan dan kelebihan kita sehingga kita bisa memperbaiki yang kurang dan mensyukuri yang lebih.
Luangkan waktu untuk melakukan refleksi dan kontemplasi. Ini sangat baik karena kita bisa bertanya terus tentang kepada diri sendiri, apa yang telah kita perbuat hari ini? Sudah baikkah perbuatan kita hari ini? Apakah kesalahan yang telah kita lakukan hari ini? Apakah kita sudah menjadi orang yang dapat menempatkan diri dengan baik hari ini?
Tanyakan terus ke dalam diri agar kesadaran untuk mengubah diri menjadi bijaksana itu semakin kuat.
Allah Ta’ala berfirman, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr [59]:18)
3. Sadarilah bahwa pada hakikatnya kita tidak tahu apa-apa. Dengan demikian kita akan terus belajar dan tidak menganggap diri sudah pintar.
Jadikan prinsip belajar yang tidak mengenal akhir sebagai prinsip hidup. Ini penting agar ketika menghadapi masalah, kita bisa berbaik sangka bahwa Allah Ta’ala sedang memberikan kita ilmu dari proses penyelesaiannya.
Belajarlah juga dari pengalaman, baik yang positif maupun negatif. Jadikan penderitaan dan kesalahan yang pernah kita alami menjadi guru.
Belajarlah juga dari alam. Belajarlah menyeimbangkan hidup bersama alam, karena orang bijak adalah mereka yang bisa mengikuti irama alam yang penuh keseimbangan dan keteraturan.
Jangan lupa, belajarlah mendengarkan dan menerima nasehat, kritik, dan saran dari orang lain. Kalau kita tidak sanggup mendengarkan orang lain, atau egois terhadap opini orang lain, berarti kita tidak layak menjadi orang yang bijaksana.
4. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Sebaiknya ambillah waktu sejenak untuk berpikir tentang suatu masalah demi memikirkan solusi terbaiknya.
Keputusan yang tergesa-gesa bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Cobalah melihat “gambaran besar” dari segala sesuatu, sehingga kita bisa “melihat badainya sebelum awannya muncul.”
5. Jadilah pribadi yang sederhana dan ramah kepada setiap orang. Bangunlah silaturahim dengan saudara, kerabat, tetangga dan orang lain.
Kenalilah orang-orang lebih dekat, baik yang ada di rumah, di tempat kerja, maupun di lingkungan sekitar. Bersedialah belajar dari mereka. Mungkin kita bisa menemukan hikmah dari mereka.
6. Bertanggung jawablah pada setiap keputusan dalam hidup kita. Sebab, lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu. Semakin kita masuk dan menyelesaikan masalah, insya Allah pribadi kita justru jadi semakin bijaksana.
Dan ketika kita ditempa masalah, hendaklah yang dicari solusi, bukan menyalahkan orang lain atau keadaan.
7. Berbagilah dengan orang lain, namun jangan gengsi menerima pemberian orang lain.
Orang bijak mau menerima bantuan sesamanya dan juga mengulurkan tangan membantu sesamanya sehingga mereka sama-sama menaiki tangga kemuliaan dengan saling berbagi.
8. Rawatlah kesehatan. Sebab, sehat itu penting. Makanlah makanan bergizi. Tidurlah yang cukup dan berolahragalah secara teratur. Jagalah kebersihan tubuh dan hindari kebiasaan-kebiasaan yang merusak, seperti merokok.
9. Peliharalah ruhiyah kita. Berikanlah makan begizi tinggi kepada ruhiyah kita dengan membaca, mempelajari dan mentadabburi al-Qur`an, serta banyak-banyak berzikir dan mengingat kematian.
10. Kembangkanlah intuisi. Kalau jiwa kita intuitif, kita dapat menangkap perasaan, keinginan, dan kebutuhan orang lain. Tidak semua orang intuitif secara alami, karena itu kita butuh berlatih.
Salah satu caranya adalah dengan membayangkan bagaimana perasaan orang lain. Tempatkanlah diri kita sebagai mereka, “pandanglah dengan kaca mata mereka dan berjalanlah dengan sepatu mereka.”
11. Bersikaplah fleksibel dan mampu beradaptasi. Biasakan toleran terhadap orang lain dan ide-ide mereka. Cobalah untuk tidak menghakimi mereka.
Kumpulkanlah sebanyak mungkin informasi sebelum menilai. Orang yang sukses adalah orang yang mau berubah, belajar, dan tumbuh ke arah yang lebih baik.
Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide baru, sejauh tidak menyimpang dari prinsip ilahiyah.
12. Bersedialah menunda keinginan. Orang yang tidak dapat menunda keinginannya mencerminkan kedangkalan jiwanya.
Kalau kita mau bekerja keras dan bias menantikan saat yang tepat untuk bisa mendapatkan hal-hal baik yang kita inginkan, ini adalah wujud kebijaksanaan yang dalam. Wallahu a’lam bish shawab.***SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar